Tampilkan postingan dengan label Nabi Muhmmad SAW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nabi Muhmmad SAW. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Januari 2012

KISAH ROSULULLAH dan PENGEMIS BUTA YAHUDI

♥ ♥ KISAH ROSULULLAH dengan PENGEMIS BUTA YAHUDI. ♥ ♥
…

Disudat pasar Madinah Al-Munawarah , seorang pengemis yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya , Ia selalu berkata : ” Wahai saudaraku , jangan engkau dekati ‘Muhammad’ , dia itu orang gila , dia itu pembohong , dia itu tukang sihir , apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya.” Padahal Setiap pagi ‘Rosulullah’ mendatanginya dengan membawa makanan dan tanpa berkata sepatah kata pun.

Bahkan Rosulullah menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis yahudi tersebut , walaupun pengemis tersebut selalu berpesan kepada orang – orang agar jangan mendekati orang yang bernama ‘Muhammad Rosulullah SAW’ dan melakukanya hingga menjelang wafatnya ‘Rosulullah’. Dan setelah wafatnya ‘Rosulullah’ Tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi tersebut.

Suatu hari Abubakar r.a , berkunjung kerumah anaknya , Aisyah…Beliau bertanya kepada Aisyah : ” Anakku , adakah sunnah kekasihku (Rosulullah) yang belum aku kerjakan ?” Aisyah menjawab : ” Wahai ayah , engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum Ayah lakukan kecuali satu sunnah saja.” Apakah itu..? Tanya Abu Bakar r.a. Setiap pagi ‘Rosulullah selalu pergi ke ujung pasar , dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi Buta yang berada disana..” Kata Aisyah.

Keesokan harinya Abu bakar r.a. pergi kepasar dengan membawakan makanan untuk pengemis itu. Abu bakar mendatangi dan membrikan makanan kepada pengemis itu , ketika Abu bakar mulai menyuapinya , si pengemis marah sambil berteriak ” Siapakah kamu…?” Abu Bakar r.a. menjawab : ” Aku orang yang Biasa “
” Bukan !! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku.” Jawab si pengemis buta itu. Apabila Ia datang kepadaku , tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah , orang yang biasa mendatangiku itu , selalu menyuapiku tapi terlebih dahulu menghaluskan makanan terseebut dengan menggunakan mulutnya , setelah itu barulah di memberikanya kepadaku. ” Pengemis itu melanjutkan perkataanya.

Abu Bakar r.a. Tidak dapat menahan air matanya waktu itu. Ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu , ” Aku memang bukan orang yang bisa mendatangimu , aku adalah salah seorang dari sahabatnya , orang yang Mulia itu telah tiada , Beliau adalah ‘ Muhammad Rosulullah saw.’ Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. Ia pun menangis dan kemudian berkata , Benarkah demikian…?
Selama ini Aku selalu menghinanya , menfitnah nya , Tapi Ia (Rosulullah) tidak pernah memarahiku sedikitpun , bahkan Ia lah yang selalu membawakan dan menyuapi makanan untuku tiap pagi…Ia begitu Mulia…..
Pengemis buta tersebut akhirnya Bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a.

Kamis, 08 Desember 2011

Hadirnya Nabi Khidir AS pada wafatnya Nabi Muhammad SAW

Ibnu Mash’ud berkata: “Ketika Rosulullah saw telah mendekati ajalnya, beliau mengumpulkan kami sekalian dikediaman ibu kita Siti Aisyah,
 kemudian beliau memperhatikan kami sekalian sehingga berderrailah air matanya dan bersabda: “Selamat datang bagi kamu sekalian dan mudah-mudahan kamu sekalian dibelas kasihani oleh Allah, saya berwasiat agar kamu sekalian bertaqwa kepada Allah sertamentaatiNya. Sungguh telah dekat hari perpisahan kita dan telah dekat pula saat hamba yang dikembalikan pulang kepada Allah ta’ala dan menemui surgaNya. Kalau sudah datang saat ajalku, hendaklah Aly yang memandikan, Fadhal bin Abas yang menuangkan air, dan Usamah bin Zaid yang menolong keduanya, kemudian kafanilah aku dengan pakaianku sendiri, bila kamu sekalian menghendaki, atau dengan kain Yaman yang putih; Kalau kamu sekalian memandikan aku, maka taruhlah aku diatas balai tempat tidurku dirumahku ini, dekat dengan lobang lahatku. Sesudah itu keluarlah kamu sekalian barang sesaat meninggalkan aku. Pertama-tama yang mensholati aku ialah Allah Aza wajalla, kemudian malaikat Jibril, kemudian malaikat Isrofil, malaikat Mikail, kemudian malaikat Izroil dan beserta para pembantunya, selanjutnya semua para malaikat. Sesudah itu masuklah kamu sekalian dengan berkelompok-kelompok dan lakukan sholat untukku.”
Setelah mereka mendengarkan ucapan perpisahan Nabi Muhammad saw, mereka para sahabat menjerit dan menangis seraya berkata, “Wahai Rosullullah, Engkau adalah seorang Utusan untuk Kami sekalian , menjadi kekuatan dalam pertemuan Kami dan sebagai penguasa yang mengurus perkara Kami, bila mana Engkau telah pergi dari Kami, kepada siapakah Kami kembali dalam segala persoalan?”
Rosullullah bersabda,”Telah kutinggalkan kamu sekalian pada jalan yang benar dan diatas jalan yang terang dan telah kutinggalkan pula untuk kamu sekalian dua penasehat yang satu pandai bicara yang satunya diam saja, yang pandai bicara adalah al-Qur’an dan yang diam adalah ajal atau kematian. Apabila ada persoalan yang sulit bagimu, maka kembalilah kamu sekalian kepada Al-Qur’an dan kepada sunnah. Dan kalau hati kamu keras membatu maka lunakkan dia dengan mengambil tamsil ibarat dari hal ihwal mati.
Sesudah itu maka Rosullullah saw menderita sakit mulai akhir bulan Shafar selama delapan belas hari. Para sahabat pun menengok silih berganti. Sedang penyakit yang diderita mulai hari pertama sehingga akhir hayatnya ialah pusing kepala.
Rosullullah mulai menjadi Rosullullah pada hari senin dan wafat juga pada hari senin. Tatkala pada hari senin, penyakit beliau bertambah berat. Maka setelah Bilal selesai adzan subuh, dia pergi menghampiri pintu rumah Rosullullah saw sambil mengucapkan salam, “Assalamu alaika ya Rosullullah!” Siti Fatimah menjawab, “ Rosullullah masih sibuk dengan dirinya sendiri” Bilal terus kembali masuk ke Masjid, dia tidak memahami kata-kata Fatimah. Ketika waktu subuh makin terang, Bilal datang lagi menghampiri pintu rumah Rosullullah saw dan salam seperti semula. Rosullullah mendengar suara Bilal itu, maka beliau bersabda: ‘’ Masuklah hai Bilal, aku masih sibuk terhadap diriku sendiri dan penyakitku rasanya bertambah berat. Maka suruhlah Abu Bakar agar sholat berjamaah dengan orang-orang yang hadir. Bilalpun keluar sambil menangis dan meletakkan tangannya diatas kepala, sambil mengeluh, “Aduh musibah, susah, terputus harapan, telah habis hilang tempat tujuan, andaikata ibuku tidak melahirkan aku.”
Bilal terus masuk masjid dan berkata,”Hai sahabat Abu Bakar, sungguh Rosullullah menyuruh engkau agar sholat bersama-sama dengan orang yang hadir, karena Beliau sibuk mengurusi dirinya yang sedang sakit. Ketika Abu Bakar melihat mihrab (tempat sholat imam) kosong dan Rosullullah tidak hadir, maka Abu Bakar menjerit keras sekali dan jatuh tersungkur karena pingsan. Maka ributlah kaum muslimin, sehingga Rosullullah mendengar keributan mereka, dan bertanya kepada Fatimah, “Hai Fatimah mengapa pagi ini, dan apakah keributan di sana itu?” Siti Fatimah menjawab, “Keributan di sana itu ialah kaum muslimin sendiri , karena engkau tidak hadir”. Maka Rosullullah saw memanggil Ali dan Fadhan bin Abbas, lalu beliau bersandar kepada keduanya dan keluar rumah menuju masjid lalu sholat bersama-sama dengan mereka dua rekaat. Selesai sholat beliau berpaling ke belakang dan bersabda, ”Hai kaum muslimin, Kamu semua dalam pemeliharaan dan pertolongan Allah, oleh sebab itu bertaqwalah kepada Allah serta mentaatinya, maka sesungguhnya saya akan meninggalkan dunia ini. Dan di hari ini hari pertamaku di akhirat dan hari terakhir bagiku di dunia”.
Lalu Rosullullah saw berdiri dan pulang ke rumahnya. Kemudian Allah ta’ala memberi perintah kepada malaikat kematian, ”Turunlah Engkau kepada KekasihKu dengan sebaik-baiknya bentuk, dan lakukan dengan halus dalam mencabut ruhnya, kalau dia mengijinkan kamu masuk, masuklah dan kalau tidak mengijinkan maka janganlah masuk dan kembalilah”.
Maka malaikat kematian pun turun dengan bentuk seperti orang Arab Baduwi desa, seraya mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaikum ya ahlal baiti nubuwwati wa ma’danir risalati adkhulu?(mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu sekalian, wahai penghuni rumah kenabian dan sumber risalah, apakah saya boleh masuk?) ”
Maka Rosullullah saw mendengarkan suara malaikat kematian itu dan bersabda, “Hai Fatimah, siapa yang berada di pintu?” Siti Fatimah menjawab, “Seorang Arab Baduwi yang memanggi dantelah aku katakan bahwa Rosullullah sedang sibuk menderita sakitnya, kemudian memanggil lagi yang ketiga kali seperti itu juga, makadia memandang tajam kepadaku, sehingga menggigil gemetar badanku, terasa takut hatiku dan bergeraklah sendi-sendi tulangku seakan-akan hampir berpisah satu sama lainnya serta berubah menjadi pucat warnaku, Rosullullah saw bersabda, “Tahukah engkau wahai Fatimah, siapa dia” Siti Fatimah menjawab, “Tidak” Rosullullah bersabda, “Dia adalah Malaikat yang mencabut segala kelezatan, yang memutus segala macam nafsu syahwat, yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan keadaan kuburan.”
Maka menangislah Siti Fatimah, dengan tangisan yang keras sekali sambil berkata, “ Aduhai celaka nantinya, sebab kematiannya Nabi yang terakhir, sungguh merupakan bencana besar dengan wafatnya orang yang paling taqwa, terputusnya dari pimpinannya para orang-orang yang suci serta penyesalan bagi kami sekalian karena terputusnya wahyu dari langit, maka sungguh saya terhalang mendengarkan perkataan engkau, dan tidak lagi bisa mendengarkan salam engkau sesudah hari ini” Kata Rosullullah, “Jangan Engkau menangis Fatimah, karena sesungguhnya, engkaulah dari antara keluargaku yang pertama berjumpa dengan aku” Selanjutnya Rosullullah saw bersabda, “Masuklah Engkau Malaikat Kematian, Maka Malaikat Kematianpun masuk sambil mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaika yaa Rosullullah” Rosullullah menjawab, “Wa laika salam, hai malaikat kematian, engkau datang untuk berkunjung atau untuk mencabut nyawaku?” Kata malaikat Kematian, “Saya datang untuk berkunjung dan untuk mencabut nyawa, sekiranya Engkau mengijinkan. Kalau tidak maka saya akan kembali”.
Kata Rosullullah, “ Hai Malaikat Kematian, dimana Jibril Engkau tinggalkan?” Kata malaikat Kematian, ”Dia saya tinggalkan di langit duniadan para malaikat sedang menghormat memuliakan dia”. Tidak selang sesaat Malaikat Jibril as pun turun dan duduk diarah kepala Rosullullah saw. Kata Rosullullah saw, “Tahukah Engkau kalau ajalku telah dekat?” Jawab malaikat Jibril, “Ya Tahu, Yaa Rosullullah” Kata Rosullullah, “Beritahukanlah kepadaku kemuliaan yang menggembirakanku di sisi Allah”.
Kata Jibril, “Sungguh pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah berbaris rapi, menanti ruh engkau di langit, pintu-pintu surga telah telah dibuka dan para bidadari telah berhias menanti kehadiran ruh Engkau”.
Kata Rosullullah, “Alhamdulillah, Hai Jibril, berilah berita gembira tentang umatku di hari kiamat”. Jibril berkata, “Saya beritahukan, bahwa sesungguhnya bahwa Allah ta’ala berfirman, Sungguh telah Aku larang para nabi masuk ke dalam Surga, sehingga engkau masuk lebih dulu, dan Aku larang juga semua umat sehingga umat engkau masuk lebih dahulu.” Kata Rosullullah, “Sekarang telah puas hatiku dan hilanglah rasa susahku. Hai malaikat Kematian mendekatlah kepadaku.”
Malaikat Kematian mendekat dan melaksanakan tugasnya mencabut ruh Beliau, dan ketika ruh sampai di pusat (perut), Rosullullah berkata, “Hai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati itu” maka malaikat Jibril memalingkan wajahnya dari Rosullullah saw, “Hai Jibril apakah Engkau tidak suka melihat wajahku?” Kata Jibril, “Wahai kekasih Allah, siapakah orangnya yang sampai hati melihat wajah Engkau, sedang Engkau di dalam sakaratul maut”.
Annas bin Malik ra berkata, “ketika ruh nabi Muhammad saw sampai di dada beliau bersabda, Aku wasiatkan agar kamu sekalan menjaga sholat dan apa-apa yang menjadi tanggungannmu maka, masih saja beliau berwasiat dengan keduanya itu sampai putuslah perkataannya.”
Kata Ali ra, ´Sungguh Rosullullah saw ketika menjelang akhir hanyatnya telah menggerakkan dua bbibirnya dua kali, dan ketika saya mendekatkan telinga, saya mendengarkan beliau mengucapkan dengan pelan-pelan, umatku… umatku…”
Maka ruh Rosulullah saw dicabut pada hari senin bulan Rabi’ul awwal. Seandainya dunia ini akan kekal bagi seseorang, Niscaya Rosulullah saw di dunia ini akan kekal.
Diriwayatkan, bahwa Ali telah membaringkan jenazah Rosullullah saw untuk dimandikan tiba-tiba ada suara dari sudut rumah yang mengatakan dengan keras sekali, “Muhammad jangan engkau mandikan karena dia sudah suci dan disucikan” maka timbullah keragu-raguan pada diri Ali terhadap suara itu. Kata Ali, “Siapa Engkau sebenarnya, karena sesungguhnya Nabi Muhammad saw telah memerintahkan untuk memandikan.”
Tiba-tiba ada suara lain yang mengatakan, “Wahai Ali, mandikanlah dia,karena sesungguhnya suara yang pertama tadi adalah suara Iblis terkutuk, sebab dengki terhadap Muhammad saw maka dia bermaksud agar beliau dimasukkan ke dalam kubur tanpa dimandikan”.
Kata Ali, “Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu, sebab Engkau telah memberitahukan bahwa tadi itu suara iblis terkutuk, maka siapakah Engkau?” Suara itu menjawab, “Saya adalah Nabi Khidir, menghadiri jenazah Nabi Muhammad saw.”
Selanjutnya Ali ra, memandikan Jasad Nabi Muhammad saw, Fadhal bin Abbas dan Usamah bin Zahid ra yang menuangkan air dan malaikat Jibril telah datang dengan membawa obat penahan kehancuran jasad dari surga. Kemudian mereka mengkafani beliau serta menguburnya di kamar Siti Aisyah ra, di tengah malam Rabu, sedang Siti Aisyah ra berdiri di atas kubur Nabi Muhammad saw sambil berkata, “Hai orang yang belum pernah mengenakan pakaian dari sutra, dan belum pernah tidur di atas ranjang yang empuk, hai orang yang keluar dari dunia sedang perutnya belum pernah kenyang meskipun dengan roti,dengan gandum kasar; hai orang yang memilih tidur di atas tikar daripada balai/ranjang; hai orang yang tidak tidur sepanjang malam karena takut siksa neraka Sa’ir” (Duratun Nasihin, Pengajian ke 16)

Senin, 05 Desember 2011

Sabda Nabi SAW: “Ali dari-Ku dan Aku dari Ali”

Dalam Shahih Bukhari, kitab Ash-Shalh, bab kayfa yaktub: Hadza mashalaha fulan bin fulan:
Al-Barra’ bin ‘Azib berkata: Pada bulan Dzul Qa’idah Nabi saw melakukan umrah.
Penduduk Mekkah enggan mengundang beliau untuk berkunjung ke Mekkah, sehingga beliau memutuskan untuk muqim di Mekkah selama tiga hari. Ketika beliau menyuruh menulis surat: “Ini adalah ketentuan Muhammad Rasul Allah.” Kemudian mereka berkata: Kami tidak menetapkan hal itu, sekiranya kami mengetahui bahwa engkau adalah utusan Allah, apa yang menghalangi kami terhadapmu, engkau hanyalah Muhammad putera Abdullah. Nabi saw bersabda: “Aku adalah utusan Allah dan aku adalah Muhammad putera Abdullah.

Kemudian Nabi saw bersabda kepada Ali (as): Hapuslah kalimat ‘Rasul Allah’. Ali (as) berkata: Tidak, demi Allah, aku selamanya tidak akan menghapusmu. Kemudian Nabi saw mengambil surat itu, lalu menulis: Ini adalah ketetapan Muhammad bin Abdillah: Kami akan datang ke Mekkah bukan untuk peperangan tatapi untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan tidak akan membawa keluar seorang pun penduduk Mekkah yang ingin mengikuti, serta tidak melarang sahabat-sahabatnya yang hendak muqim di dalamnya.

Ketika beliau memasuki Mekkah, berselang beberapa saat, mereka mendatangi Ali (as) lalu berkata: Katakan pada sahabatmu! Keluarlah dari kota kami. Setelah berselang beberapa waktu, Nabi saw meninggalkan Mekkah, kemudian puteri Hamzah mengikuti rombongan Nabi saw sambil memanggil, wahai pamanku wahai pamanku. Kemudian Ali (as) mendekatinya lalu memegang tangannya dan berkata kepada Fatimah (as): Selainmu adalah puteri pamanmu. Kemudian Fatimah (as) membawanya. Lalu terjadi perdebatan antara Ali (as), Zaid dan Ja’far. Ali (as) berkata: Aku lebih berhak terhadapnya, dia adalah puteri pamanku. Ja’far berkata: dia juga puteri pamanku dan bibiknya berada dalam lindunganku. Zaid berkata: dia adalah puteri saudaraku. Kemudian Nabi saw membuat ketetapan dan bersabda: Bibik adalah seperti kedudukan ibu. Dan bersabda kepada Ali (as):

أنت مني وأنا منك
“Engkau dariku dan aku darimu.” Kemudian bersabda kepada Ja’far: “Engkau menyerupai keterciptaabku dan akhlakku.” Dan bersabda kepada Zaid: “Engkau adalah saudaraku dan junjunganku.”

Hadis ini juga disebutkan dalam kitab:
1. Shahih Bukhari, awal penciptaan, bab Umrah qadha’.
2. Sunan Al-Kubra, Al-Baihaqi, jilid 8 halaman 5, bab 13, hadis ke 15768.
3. Khashaish An-Nasa’i, halaman 51.
4. Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1 halaman 98, hadis ke 772.
5. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3 halaman 120.
6. Tarikh Baghdad, Khathib Al-Baghdadi, jilid 4 halaman 140.
7. Musykil Al-Atsar, Ath-Thahawi, jilid 4 halaman 173.
Dalam Shahih Ath-Tirmidzi 2: 297, kitab manaqib, bab 20:Imran bin Hashin berkata: Pada suatu hari Rasulullah mengirim pasukan di bawah pimpinan Ali bin Abi Thalib (as). Setelah peperangan itu terjadilah musibah pada seorang budak perempuan, lalu mengingkarinya. Empat orang dari sahabat Nabi saw saling berjanji dan berkata: Jika nanti kami berjumpa dengan Rasulullah saw, kami akan memberitakan kepadanya apa yang dilakukan oleh Ali (as). Ketika kaum muslimin kembali dari perjalanannya, mereka menjumpai Rasulullah saw, lalu mengucapkan salam padanya lalu mereka pulang. Kemudian datanglah rombongan pasukan dan mereka mengucapkan salam kepada Nabi saw, lalu berdirilah salah seorang dari empat orang sahabat itu dan berkata: Ya Rasulallah, tidakkah melihat Ali bin Abi Thalib melakukan demikian dan demikian? Kemudian Nabi saw berpaling darinya. Kemudian yang satu lagi berdiri dan berkata seperti yang pertama, kemudian Nabi saw berpaling darinya. Kemudian yang ketiga berdiri dan berkata dengan perkataan yang sama, kemudian Nabi saw berpaling darinya. Kemudian yang keempat berdiri dan berkata dengan perkataan yang sama. Lalu Rasulullah saw menghadap kepada mereka dengan nampak marah di wajahnya dan bersabda:

ما تريدون من عليّ ؟ ما تريدون من عليّ ؟ ما تريدون من عليّ ؟ إن علياً مني وأنا منه ، وهو ولي كل مؤمن بعدي
“Apa yang kalian inginkan dari Ali? Apa yang kalian inginkan dari Ali? Sesungguhnya Ali adalah dariku dan aku darinya, dia adalah pemimpin setiap mukmin sesudahku.”

Hadis ini juga terdapat dalam kitab:
1. Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 4 halaman 437, hadis ke 19426.
2. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3 halaman 110, kitab Ma’rifah Ash-Shahabah.
3. Musnad Abu Dawud, jilid 3 halaman 111, hadis 829.
4. Hilyah Al-Awliya’, Abu Na’im, jilid 6 halaman 294.
5. Kanzul Ummal, Al-Muttaqi Al-Hindi, jilid 6 halaman 399: Fadhail Ali (as).
6. Khashaish An-Nasa’i, halaman 23.

Dalam Shahih At-Tirmidzi 2: 299, bab 21, hadis ke 3716:Barra’ bin ‘Azib berkata bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Ali (as):

أنت مني وأنا منك
“Engkau dariku dan aku darimu.” (juga dalam Khashaish An-Nasa’i, halaman19)
Dalam Shahih At-Tirmidzi 2: 299, kitab Manaqib, bab 21, hadis ke 3719:Habasyi bin Junadah berkata bahwa Rasulullah saw:

عليّ مني وأنا من عليّ ولا يؤدّي عني إلاّ أنا أو علي
“Ali dariku dan aku dari Ali, dan tidak akan mengenalku yang sebenarnya kecuali aku dan Ali.”

Hadis ini juga terdapat dalam:
1. Sunan Ibnu Majah, halaman 12, Mukaddimah, bab 11, hadis ke 119.
2. Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 4 halaman 164 dan 165, hadis ke 17051, 17052, 17056, 17057, 17058.
3. Khashaish An-Nasa’i, halaman 19 dan 20.
4. Ar-Riyadh An-Nadhrah, Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 2 halaman 174.